Segara Rupek Memisahkan Jawadwipa dengan Balidwipa

Jawadwipa adalah negeri makmur.Tanah ini sangat luas membentang dari Ujung Kulon sampai semenanjung Bungkulan.Penduduknya sejahtera.Di lereng sebuah gunung,Gunung Raung namanya,tinggallah seorang Pandita Sakti.Beliau seorang Maharesi yang mumpuni dan disegani.Juga seorang mahaguru yang sayang pada siswanya,membimbing berbudi luhur,bertingkahlaku sopan,serta senantiasa memberi pengetahuan makna hidup. Dari pasraman lereng Gunung Raung ini tersebar para pemimpin yang andal,Pemangku Adat,dan bahkan banyak yang menjadi Mpu (pemimpin keagamaan).Agama ditekankan untuk memuja Ida Hyang Widi/Tuhan Yang Maha Esa.Beliau dikenal sebagai Maharesi Sidhimantra.
Betapapun saktinya beliau toh masih ada kekurangannya.Beliau belum berputra walaupun sudah lama menikah.Kini usianya menjelang tiga perempat abad.Beliau menginginkan seorang putra penerus keturunannya. Pada hari yang dianggap baik beliau mengadakan upakara Homa Yadnya,yakni upakara mohon diberikan keturunan oleh Ida Hyang Prama Kawi( Tuhan).Malam itu para siswa berkumpul mengitari Homa (semacam tempat pedupaan).Kidung pujian dikumandangkan untuk memuja Hyang Prama Kawi mohon doa restu agar upakara berjalan dengan lancar.Sang Maharesi membacakan mantra-mantra.Menjelang tengah malam tiba-tiba memancar cahaya merah berkemilau di tengah kobaran api Homa.Pancaran cahaya merah itu berputar-putar dan.tiba-tiba berubah bentuk menjadi “manik bang rong teleg geni.”Sebutir permata mirah delima ditengah kobaran api. Sang Maharesi dengan khusuk berdoa,dan permata mirah delima itu melesat dan jatuh dipangkuannya. Dengan diiringi tangis bayi lelaki sebagai tanda lahir,dibopongnya ke pendapa.Sunyi senyap,hanya sekali-sekali raungan harimau dari kejauhan. Bayi itu kemudian diberi nama Ida Bang Manik Angkeran. Bang artinya warna merah.
Sangat disayangkan Ida Bang Manik Angkeran setelah dewasa tidak memiliki sifat-sifat ayahnya.Ia mempunyai kebiasaan yang tak terpuji,seperti berjudi dan mabuk-mabukan.Sang Maharesipun sudah sering memberikan nasehat ,namun adatnya tak pernah berubah. Malah beliau ditinggalkan pergi bersama teman bebotoh (penjudi) .Petualangan perjudiannya sampai ke Balidwipa (Pulau Bali).
Konon Sang Maharesi menjalin persahabatan dengan seekor Naga Sakti yang mendiami Goa Raja di kaki Gunung Agung .Sahabatnya itu bernama Naga Besukih.Biasanya setiap bulan purnama Sang Maharesi membawa susu dan madu untuk sahabatnya itu.Sebaliknya Naga Besukih memberikan apa yang dimintanya.Pesahabatan itu sudah berjalan sejak lama dan Ida Bang Manik Angkeran mengetahui hal itu.
Pada bulan purnama berikutnya Sang Maharesi jatuh sakit.Ia tidak sempat menemui sahabatnya.Secara diam-diam kesempatan itu digunakan oleh anaknya untuk meminta artha berana (selaka/dinar)kepada Sang Naga sahabat ayahnya . Setibanya di depan Goa Raja, dibunyikannya Genta milik ayahnya.Ia duduk tepat di depan goa sambil mempersembahkan madu dan susu .Kedatangannya disambut gembira oleh Sang Naga Besukih.Setelah mendengar bahwa ayahnya tak sempat datang,Sang Naga memuji-muji Sang Maharesi,walaupun sakit masih sempat mengirimkan santapan kegemarannya.
Selesai bersantap,Sang Naga bertanya kepada Manik Angkeran,apa yang dimintanya.Manik Angkeran menjawab bahwa ia tidak meminta apapun, serta mempersilakan Sang Naga kembali ke Goanya.Sang Naga masuk ke goa dengan ekornya yang panjang masih di luar goa, dan di ujung ekornya bertahtakan Ratna Mutu Manikam yang sinarnya gemerlap.”Ambil cepat manik itu,kamu tak akan kehabisan uang” terdengar bisikan. Dan secepat kilat pedang diayunkan ke ekor naga itu, dan putuslah ekornya. Manik itu segera diambil dan Manik Angkeran lari secepat kilat ke arah hutan cenara.
Karena larinya begitu cepat,tak terkejar oleh Sang Naga. Namun karena kesaktiannya yang hebat,maka sekali dijilat bekas telapak kaki Manik Angkeran,maka hanguslah hutan cemara lengkap segala isinya.Disitu pula Manik Angkeran mati menjdi abu.Dan tempat itu sampai sekarang bernama Cemara Geseng (cemara terbakar).
Disebabkan Ida Bang Manik Angkeran lama tak pulang,maka Sang Maharesi ke Balidwipa menemui sahabatnya untuk menanyakan prihal putranya hilang.Dari cerita Sang Naga akhirnya beliau tahu bahwa putranya telah berbuat durhaka kepada sahabatnya.Betapapun malu Sang Maharesi,dimintanya Sang Naga untuk menghidupkannya kembali.Sang Naga berjanji mengembalikan putranya asalkan kelak keturunannya mau menjadi abdi sebagai Pemangku (peminpin upakara yadnya)di Besakih.Sang Maharesi menyanggupi,dan tiada berselang berapa lama hutan cemara lengkap segala isinya hidup kembali sebagai sediakala.
Agar Manik Angkeran tidak dapat kembali ke Jawadwipa(Pulau Jawa),disuatu tempat diujung timur Pulau Jawa Sang Maharesi menorehkan kerisnya melintang dari ujung utara ke ujung selatan.Bersamaan dengan itu memancarlah air dengan sangat deras di sepanjang torehan tersebut.Dan sekejap daratan yang menghubungi Jawadwipa dengan Balidwipa berubah menjadi laut dengan ombaknya yang menderu-deru selebar sepeneleng (sejauh mata memandang).Selat itu kemudian diberi nama Segara Rupek (lautan sempit) atau sekarang Selat Bali. Selat ini sangat indah,terletak antara Ketapang dan Gilimanuk. Selat ini ramai dikunjungi sebagai tempat penyeberangan Jawa-Bali.

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/1968922-segara-rupek-memisahkan-jawadwipa-dengan/#ixzz24kWgNYCb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: